Senin, 27 Februari 2012

SEJARAH - Sedikit Tentang Térong Péot

Dalam banyak tulisan mengenai sejarah Bekasi, sering disebut mengenai penemuan rantai di Kobak Rante, Desa Sukamakmur, Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Bekasi, yang konon katanya, daerah Kobak Rante adalah daerah pinggir sungai yang cukup besar, hingga mampu dilayari kapal. Jalur ini sering digunakan patroli kapal dari Sumedanglarang. Suatu waktu, kapal bernama Terong Peot terdampar di sana, sungai mengalami pendangkalan, Terong Peot tidak bisa berlayar, kayunya menjadi lapuk dan tinggallah rantainya saja.
Selanjutnya, tidak ada lagi tulisan yang mengulas mengenai Térong Péot itu. Entah mungkin karena suatu kebetulan saja kapal itu melintas daerah tersebut, atau mungkin pula karena sedikitnya keterangan mengenai Térong Péot itu sendiri. Dan memang, tak banyak tulisan ataupun keterangan sejarah yang mengungkap keberadaan Térong Péot. Karena itu, saya mencoba untuk mencari tahu ke berbagai sumber dan menuliskan yang sedikit itu di sini.
Sebelumnya, marilah kita menengok ke belakang dulu, ke kerajaan Pajajaran pada masa Hindu. Di mana ada seorang patih kerajaan yang bernama Batara Cengkar Buana, yang setelah kerajaan Pajajaran menjadi kerajaan islam, Batara Cengkar Buana berganti nama menjadi Térong Péot atau Embah Térong Péot yang dipusarakan di Dayeuh Luhur, Sumedang.
Mungkin banyak orang yang baru mengenal dan mendengar nama Prabu Munding Wangi. Prabu Munding Wangi adalah ayah dari Prabu Kian Santang. Prabu Munding Wangi-lah yang mengakhiri kerajaan Pajajaran. Kemudian Prabu Munding Wangi mengeluarkan wasiat yang sangat terkenal yaitu Uga Wangsit Siliwangi. Penghilangan kerajaan Pajajaran terjadi setelah Prabu Munding Wangi menyerahkan seluruh kerajaan Pajajaran termasuk isteri, rakyat dan 4 (empat) orang patihnya yang terkenal yaitu Sanghyang Hawu, Sanghyang Konang Hapa, Batara Nanggana dan Batara Cengkar Buana kepada Prabu Geusan Ulun, Raja Sumedang Larang. Sejak saat itu nama kerajaannya menjadi Kerajaan Galeuh Pakuan Pajajaran dan selanjutnya menjadi Kerajaan Sumedang Larang.
Sebagai raja yang beragama Hindu, mungkin bagi banyak orang dikatakan aneh. Anehnya ? Beliau menyerahkan kekuasaan Kerajaan Pajajaran kepada Prabu Geusan Ulun dengan satu syarat yaitu seluruh rakyat Pajajaran dan Sumedang Larang termasuk 4 orang patihnya diharuskan masuk Islam. Sejak menjadi kerajaan Islam itulah keempat patihnya berubah nama menjadi Patih Jaya Perkasa, Konang Hapa (Mbah Jenggot), Nanggana dan Terong Peot.
Ketika ditanya oleh Prabu Geusan Ulun, mengapa syaratnya masuk Islam sedangkan Prabu Munding Wangi sendiri tetap menganut agama Hindu yang kemudian menghilang (konon ngahyang alias menghilang entah kemana). Jawaban beliau sungguh mengesankan yaitu :
”Aku telah mengetahui akan datangnya ajaran penyempurna dari Sanghyang Wenang, maka itu aku menginginkan anak cucuku menjadi manusia yang sempurna dan kelak menjadi penghuni surga nomor utama (Nirwana dalam Hindu). Ingat Geusan Ulun, ibarat awal mula air. Dari mata air mengalir ke sungai kecil, menjadi sungai besar, bermuara ke laut dan air di laut mengalami proses kondensasi menjadi hujan di gunung sehingga menjadi mata air. Jadi awal dan akhirnya jelas. Semuanya kuserahkan kepada anak cucuku untuk memilih. Mana yang terbaik dan diyakini oleh mereka“.
Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M) dinobatkan untuk menggantikan kekuasaan ayahnya, Pangeran Santri. Beliau menetapkan Kutamaya sebagai ibukota kerajaan Sumedang Larang, yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis). Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama, militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putera angkatnya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata atau Rangga Gempol I, yang dikenal dengan nama Raden Aria Suradiwangsa menggantikan kepemimpinannya.
Pada masa awal pemerintahan Prabu Geusan Ulun, Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan sedang dalam masa kehancurannya karena diserang oleh Kerajaan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf dalam rangka menyebarkan Agama Islam. Oleh karena penyerangan itu Kerajaan Pajajaran hancur. Pada saat-saat kekalahan Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi sebelum meninggalkan Keraton beliau mengutus empat prajurit pilihan tangan kanan Prabu Siliwangi untuk pergi ke Kerajaan Sumedang dengan rakyat Pajajaran untuk mencari perlindungan yang disebut Kandaga Lante. Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran, kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger, tampekan, dan kilat bahu (pusaka tersebut masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun di Sumedang). Kandaga Lante yang menyerahkan tersebut empat orang yaitu Sanghyang Hawu atau Embah Jayaperkosa, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Cengkar Buana atau Embah Térong Péot.

Walaupun pada waktu itu tempat penobatan raja direbut oleh pasukan Banten (wadyabala Banten) tetapi mahkota kerajaan terselamatkan. Dengan diberikannya mahkota tersebut kepada Prabu Geusan Ulun, maka dapat dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan menjadi bagian Kerajaan Sumedang Larang, sehingga wilayah Kerajaan Sumedang Larang menjadi luas. Batas wilayah baratnya Sungai Cisadane, batas wilayah timurnya Sungai Cipamali (kecuali Cirebon dan Jayakarta), batas sebelah utaranya Laut Jawa, dan batas sebelah selatannya Samudera Hindia.
Secara politik Kerajaan Sumedang Larang didesak oleh tiga musuh: yaitu Kerajaan Banten yang merasa terhina dan tidak menerima dengan pengangkatan Prabu Geusan Ulun sebagai pengganti Prabu Siliwangi; pasukan VOC di Jayakarta yang selalu mengganggu rakyat; dan Kesultanan Cirebon yang ditakutkan bergabung dengan Kesultanan Banten. Pada masa itu Kesultanan Mataram sedang pada masa kejayaannya, banyak kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara yang menyatakan bergabung kepada Mataram. Dengan tujuan politik pula akhirnya Prabu Geusan Ulun menyatakan bergabung dengan Kesultanan Mataram dan beliau pergi ke Demak dengan tujuan untuk mendalami agama Islam dengan diiringi empat prajurit setianya (Kandaga Lante). Setelah dari pesantren di Demak, sebelum pulang ke Sumedang ia mampir ke Cirebon untuk bertemu dengan Panembahan Ratu penguasa Cirebon, dan disambut dengan gembira karena mereka berdua sama-sama keturunan Sunan Gunung Jati.
Dengan sikap dan perilakunya yang sangat baik serta wajahnya yang rupawan, Prabu Geusan Ulun disenangi oleh penduduk di Cirebon. Permaisuri Panembahan Ratu yang bernama Ratu Harisbaya jatuh cinta kepada Prabu Geusan Ulun. Ketika dalam perjalanan pulang ternyata tanpa sepengetahuannya, Ratu Harisbaya ikut dalam rombongan dan karena Ratu Harisbaya mengancam akan bunuh diri akhirnya dibawa pulang ke Sumedang. Karena kejadian itu, Panembahan Ratu marah besar dan mengirim pasukan untuk merebut kembali Ratu Harisbaya sehingga terjadi perang antara Cirebon dan Sumedang.
Akhirnya Sultan Agung dari Mataram meminta kepada Panembahan Ratu untuk berdamai dan menceraikan Ratu Harisbaya yang aslinya dari Pajang-Demak dan dinikahkan oleh Sultan Agung dengan Panembahan Ratu. Panembahan Ratu bersedia dengan syarat Sumedang menyerahkan wilayah sebelah barat Sungai Cilutung (sekarang Majalengka) untuk menjadi wilayah Cirebon. Karena peperangan itu pula ibukota dipindahkan ke Gunung Rengganis, yang sekarang disebut Dayeuh Luhur.
Prabu Geusan Ulun memiliki tiga orang istri: yang pertama Nyi Mas Cukang Gedeng Waru, putri Sunan Pada; yang kedua Ratu Harisbaya dari Cirebon, dan yang ketiga Nyi Mas Pasarean. Dari ketiga istrinya tersebut ia memiliki lima belas orang anak :
1.   Pangeran Rangga Gede, yang merupakan cikal bakal bupati Sumedang.
2.   Raden Aria Wiraraja, di Lemahbeureum, Darmawangi.
3.   Kiyai Kadu Rangga Gede.
4.   Kiyai Rangga Patra Kalasa, di Cunduk Kayu.
5.   Raden Aria Rangga Pati, di Haurkuning.
6.   Raden Ngabehi Watang.
7.   Nyi Mas Demang Cipaku.
8.   Raden Ngabehi Martayuda, di Ciawi.
9.   Rd. Rangga Wiratama, di Cibeureum.
10. Rd. Rangga Nitinagara, di Pagaden dan Pamanukan.
11. Nyi Mas Rangga Pamade.
12. Nyi Mas Dipati Ukur, di Bandung.
13. Rd. Suridiwangsa, putra Ratu Harisbaya dari Panemabahan Ratu.
14. Pangeran Tumenggung Tegalkalong.
15. Rd. Kiyai Demang Cipaku, di Dayeuh Luhur.
Prabu Geusan Ulun merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, karena selanjutnya menjadi bagian Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati).

BETAWI BEKASI BERSATU

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar